Harga Rp. 60.000,-

- Penulis :
- Lusia Oktri Wini, M.Pd.,
- Kategori Buku : Referensi
- Penerbit : PT Macax Usaha Mandiri
- ISBN : Dalam Proses
- Ukuran : 24×16 cm
- Halaman : vi, 112 hlm
- Bahasa : Indonesia
- Tahun Terbit : 2026
sinopsis
Buku “Strategi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia” mengajak pembaca untuk berhenti sejenak dan bertanya: selama ini, kita mengajar pakai apa, sih? Pendekatan? Strategi? Metode? Atau cuma kebiasaan yang diulang-ulang? Nah, di buku ini, hal-hal itu diluruskan satu per satu supaya tidak tertukar.
Di bagian awal, buku ini menjelaskan perbedaan antara pendekatan, strategi, metode, teknik, dan model pembelajaran. Pendekatan diposisikan sebagai cara pandang paling dasar—semacam keyakinan tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana bahasa seharusnya diajarkan. Dari pendekatan ini, barulah diturunkan strategi pembelajaran, yang sifatnya lebih umum dan berorientasi pada tujuan. Strategi ini kemudian diwujudkan dalam metode, yaitu cara konkret yang dipakai guru di kelas. Di tingkat paling teknis, ada teknik, yaitu langkah-langkah kecil atau aktivitas spesifik yang dilakukan saat pembelajaran berlangsung. Sementara itu, model pembelajaran dipahami sebagai kerangka utuh yang menggabungkan pendekatan, strategi, metode, dan teknik dalam satu pola pembelajaran yang khas.
Setelah konsep dasarnya jelas, buku ini masuk ke pembahasan lima strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Strategi-strategi ini dijelaskan bukan sebagai rumus mati, tapi sebagai pilihan yang bisa disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, materi, dan kondisi siswa. Artinya, guru tidak dituntut untuk selalu pakai satu strategi yang sama, tapi justru diajak untuk fleksibel dan reflektif dalam menentukan langkah pembelajaran.
Selain strategi, buku ini juga menguraikan sepuluh model pembelajaran yang bisa diterapkan di kelas bahasa dan sastra Indonesia. Model-model ini dipaparkan sebagai alternatif pembelajaran yang mendorong keaktifan siswa, kerja sama, kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas. Beberapa model menekankan pada diskusi dan kolaborasi, sementara yang lain lebih fokus pada pemecahan masalah, penemuan, atau pengembangan pengalaman belajar secara langsung. Dalam konteks pembelajaran sastra, model-model ini membantu siswa tidak hanya memahami teks, tapi juga berinteraksi dengan karya sastra secara lebih hidup dan bermakna.
Yang terasa kuat dari buku ini adalah pesannya yang konsisten: semua konsep—pendekatan, strategi, metode, teknik, sampai model—itu saling berkaitan. Tidak bisa dipilih sembarangan, apalagi dipakai hanya karena “sudah biasa”. Pengajar perlu paham betul apa yang sedang dilakukan dan kenapa itu dilakukan. Dengan begitu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia tidak hanya berjalan, tapi benar-benar punya arah dan dampak bagi siswa.